Minggu, 03 Januari 2010

MONYET


MONYET atau kera merupakan hewan yang tingkahnya seringkali lucu dan menggelikan. Jika anda ingin melihat gerombolan kera yang bertingkah seperti itu, datanglah ke di obyek wisata Taman Kera di desa Cikakak Kecamatan Wangon Kabupaten Banyumas Jawa Tengah. Di tempat ini ada ratusan kera yang selalu siap menyambut para wisatawan yang berkunjung ke lokasi tersebut. Konon kera kera ini merupakan penunggu makam keramat yang berada di lokasi tersebut.
Memasuki lokasi obyek wisata taman kera yang berada desa jangan takut jika gerombolan monyet kemudian mendekati anda. Hewan hewan itu tahu persis jika wisatawan yang datang pasti akan memberikan makanan kepada mereka.
Bagi wisatawan yang pernah ke lokasi ini pasti tak lupa membawa makanan pisang atau kacang goreng. Biasanya monyet monyet ini sangat suka dengan makanan tersebut.
Data kantor dinas pariwisata kabupaten Banyumas, sejak ratusan tahun lalu terdapat ribuan kera yang berada di hutan sekitar Desa Cikakak. Populasi hewan pemakan buah buahan ini terus berkembang. Sebagian dari hewan hewan ini sudah akrab dengan warga yang sering berkunjung ke masjid saka tunggal yang berada di samping taman kera.
Obyek wisata taman kera ini kini semakin ramai dipenuhi wisatawan baik dari Banyumas maupun luar kota seperti Jakarta dan Bandung. Mereka yang merasa jenuh dan bosan dengan rutinitas pekerjaan, bisa datang kesini bermain dengan kera kera yang lucu. Setidaknya bisa mengurangi stress.
“Saya memang sering datang kesini, ya kalau lagi stres banyak pikiran. Setidaknya saya bisa merasa terhibur bisa bermain dengan hewan hewan lucu itu,” ujar Alipi. Wisatawan asal Cilacap yang datang bersama keluarganya.
Hewan hewan lincah yang tidak nakal ini tidak mau menyerang pengunjung. Bahkan baik kera kecil. Dewasa maupun yang sedang menggendong anaknya berakrab akrab dengan pengunjung.
Subagyo, salah seorang pengurus taman kera menuturkan, hewan hewan ini menjadi daya tarik tersendiri bagi obyek wisata alam tersebut. “ Selain kera di atas bukit tersebut terdapat makam kyai toleh dan seorang penyebar agama Islam dan keluarganya pengelola masjid saka tunggal yang telah meninggal ratusan tahun lalu. Makam itu juga ramai dikunjungi,” ujarnya.
Pada bulan syura, lanjut Bagyo,di lokasi ini juga sering digelar acara ritual bedah pagar. Acara itu merupakan penggantian pagar yang mengelilingi taman kera dan makam keramat tersebut. Biasanya dalam acara itu, ratusan wisatawan dari berbagai daerah datang ke lokasi tersebut.
Kini tinggal kemauan pemerintah Banyumas untuk lebih memaksimalkan potensi wisata tersebut. Agar tidak kalah dengan obyek wisata lain seperti Baturaden dan Curug Cipendok. (banyumasnews.com/Nanang Anna Noor)

SELAYANG PANDANG


A. Selayang Pandang

Batu Raden merupakan salah satu obyek wisata andalan di Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah. Sejak tahun 1928, Batu Raden dikenal sebagai obyek wisata pegunungan. Pengunjung bisa menikmati keindahan pemandangan alam dan udara pegunungan yang sejuk dengan suhu antara 18°C-25°C. Dalam kondisi cuaca yang bagus dan cerah, pemandangan Kota Purwokerto, Nusakambangan, dan pantai Cilacap dapat terlihat dengan jelas dari puncak Baturaden.
Nama Batu Raden berasal dari dua kata (bahasa Jawa), yaitu Batur (bukit, tanah, teman, pembantu) dan Raden (bangsawan). Bila digabung, kata “Batu Raden” dapat bermakna: tanah yang datar atau tanah yang indah. Ada dua versi sejarah Batu Raden, yaitu versi Syekh Maulana Maghribi dan versi Kadipaten Kutaliman. Menurut versi yang pertama, Syekh Maulana Maghribi, Pangeran Rum yang berasal dari Turki dan beragama Islam, pernah merasa penasaran dengan cahaya terang misterius yang menjulang ke angkasa dan bersinar di bagian timur. Sang Pangeran kemudian mencari asal cahaya tersebut. Singkat cerita, setelah melakukan pendakian hingga ke puncak sebuah gunung, Sang Pangeran melihat ada seorang pertapa Buddha yang bersandar pada sebuah pohon jambu yang memancarkan sinar cahaya ke atas. Lokasi ini kemudian dikenal dengan sebutan Batu Raden. Sedangkan menurut versi kedua, cerita Batu Raden terkait dengan kisah cinta antara anak perempuan Adipati Kutaliman dengan pembantunya yang menjaga kuda.
Luas tanah keseluruhan kawasan obyek wisata Batu Raden adalah 16,5 Ha, dengan luas lahan investasi 4 Ha. Status tanah adalah HPL (hak pengelolaan) Pemerintah Daerah (Pemda).